Terus Bersyukur atas Segala NikmatNya
Onani, Mastubasi dalam pandangan Islam dan Cara Mengatasinya
Bayu Blog/Artikel
Onani, Mastubasi dalam pandangan Islam dan Cara Mengatasinya  
2008-01-14 |

ADA beberapa istilah masturbasi, antara lain onani atau rancap, yang berarti melakukan suatu rangsangan organ seks sendiri dengan cara menggesek-gesekkan tangan atau benda lain hingga mengeluarkan sperma dan mencapai orgasme. Dalam ajaran Islam, masturbasi dikenal dengan nama ; al-istimna`, al-istima`bilkaff, nikah al-yad, al-I`timar, atau `adtus sirriyah. Sedangkan masturbasi yang dilakukan oleh wanita disebut al-ilthaf.

Para ilmuwan dan psikolog modern mengatakan, masturbasi tidak merusak kesehatan, jika tidak dilakukan secara berlebihan. Meskipun demikian pada dasarnya masturbasi bukan usaha normal untuk memenuhi nafsu syahwat. Bahkan jika menjadi suatu kebiasaan, akan banyak mendatangkan bahaya dan kerugian bagi pelakunya.

Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu seksual dengan jalan tidak bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis. Mereka mengalami kesenangan, kebahagiaan, keasyikan bersama dan penyerahan menyeluruh. Suami dan isteri saling melihat, menyentuh dan mencium disertai masuknya organ pria kepada wanita yang mengantarkan mereka kepada kegairahan puncak dan kepuasan.

Pada senggama, rangsangan tidak begitu perlu dibangkitkan secara tiruan, karena hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan merupakan suatu kenyataan yang benar. Dalam masturbasi satu-satunya sumber rangsangan adalah khayalan diri sendiri. Itulah yang menciptakan suatu gambaran erotis dalam pikiran. Masturbasi merupakan rangsangan yang sifatnya lokal pada anggota kelamin. Akibatnya masturbasi tidak bekerja sebagai suatu kebajikan. Hubungan seks yang normal dapat menimbulkan rasa bahagia dan gembira, sedangkan masturbasi malah menciptakan depresi emosional dan psikologis. Oleh karena itu memuaskan diri dengan masturbasi bertentangan dengan kehidupan seksual yang normal.

Menurut penelitian, mereka yang biasanya melakukan masturbasi berumur antara tiga belas hingga dua puluh tahun. Pada umumnya yang melakukan masturbasi adalah mereka yang belum kawin, menjanda, menduda atau orang-orang yang kesepian atau dalam pengasingan.

Anak laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi daripada anak perempuan. Penyebabnya antara lain, pertama, nafsu seksual anak perempuan tidak datang melonjak dan eksplosit. Kedua, perhatian anak perempuan tidak tertuju kepada masalah senggama karena mimpi seksual dan mengeluarkan sperma (ihtilam) lebih banyak dialami laki-laki. Mimpi erotis yang menyebabkan orgasme pada perempuan terjadi jika perasaan itu telah dialaminya dalam keadaan terjaga.

Masalah yang berkaitan dengan onani atau dalam bahasa arabnya disebut istimna‘ banyak dibahas oleh para ulama. Sebagian besar ulama mengharamkannya namun ada juga yang membolehkannya.

1. Yang mengharamkan
Umumnya para ulama yang mengharamkan onani berpegang kepada firman Allah SWT:
"Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya kecuali terhadap isterinya atau hamba sahayanya, mereka yang demikian itu tidak tercela. Tetapi barangsiapa mau selain yang demikian itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang melewati batas." (Al-Mu‘minun: 5-7).

Mereka memasukkan onani sebagai perbuatan tidak menjaga kemaluan.
Dalam kitab Subulus Salam juz 3 halaman 109 disebutkan hadits yang berkaitan dengan anjuran untuk menikah:

Rasulullah SAW telah bersabda kepada kepada kami,"Wahai para pemuda, apabila siapa diantara kalian yangtelah memiliki baah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung. HR Muttafaqun ‘alaih.

Di dalam keterangannya dalam kitab Subulus Salam, Ash-Shan‘ani menjelaskan bahwa dengan hadits itu sebagian ulama Malikiyah mengharamkan onani dengan alasan bila onani dihalalkan, seharusnya Rasulullah SAW memberi jalan keluarnya dengan onani saja karena lebih sederhana dan mudah. Tetapi Beliau malah menyuruh untuk puasa.

Sedangkan Imam Asy-Syafi‘i mengharamkan onani dalam kitab Sunan Al-Baihaqi Al-Kubro jilid 7 halaman 199 dalam Bab Onani ketika menafsirkan ayat Al-Quran surat Al-Mukminun ...Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya.

Begitu juga dalam kitab beliau sendiri Al-Umm juz 5 halaman 94 dalam bab Onani.

Imam Ibnu Taymiyah ketika ditanya tentang hukum onani beliau mengatakan bahwa onani itu hukum asalnya adalah haram dan pelakunya dihukum ta‘zir, tetapi tidak seperti zina.

Namun beliau juga mengatakan bahwa onani dibolehkan oleh sebagian shahabat dan tabiin karena hal-hal darurrat seperti dikhawatirkan jatuh ke zina atau akan menimbulkan sakit tertentu. Tetapi tanpa alasan darurat, beliau (Ibnu Taymiyah) tidak melihat adanya keringanan untuk memboleh onani.


2. Yang membolehkan
Diantara para ulama yang membolehkan istimna‘ antara lain Ibnu Abbas, Ibnu Hazm dan Hanafiyah dan sebagian Hanabilah.

Ibnu Abbas mengatakan onani lebih baik dari zina tetapi lebih baik lagi bila menikahi wanita meskipun budak.

يا بن عباس إني غلام شاب أجد غلمة شديدة فأدلك ذكري حتى أنزل فقال بن عباس خير من الزنا ونكاح الأمة خير منه

Ada seorang pemuda mengaku kepada Ibnu Abbas,"Wahai Ibnu Abbas, saya seorang pemuda dan melihat wanita cantik. Aku mengurut-urut kemaluanku hingga keluar mani". Ibnu Abbas berkata,"Itu lebih baik dari zina, tetapi menikahi budak lebih baik dari itu (onani).

Mazhab Zhahiri yang ditokohi oleh Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla juz 11 halaman 392 menuliskan bahwa Abu Muhammad berpendapat bahwa istimna‘ adalah mubah karena hakikatnya hanya seseorang memegang kemaluannya maka keluarlah maninya. Sedangkan nash yang mengharamkannya secara langsung tidak ada.

Sebagaimana dalam firman Allah: "Dan telah Kami rinci hal-hal yang Kami haramkan" Sedangkan onani bukan termasuk hal-hal yang dirinci tentang keharamannya maka hukumnya halal. Pendapat mazhab ini memang mendasarkan pada zahir nash baik dari Al-Quran maupun Sunnah.

Sedangkan para ulama Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah)dan sebagian Hanabilah (pengkikut mazhab Imam Ahmad) -sebagaimana tertera dalam Subulus Salam juz 3 halaman 109 dan juga dalam tafsir Al-Qurthubi juz 12 halaman 105- membolehkan onani dan tidak menjadikan hadits ini tentang pemuda yang belum mampu menikah untuk puasa diatas sebagai dasar diharamkannya onani. Berbeda dengan ulama syafi‘iah dan Malikiyah. Mereka memandang bahwa onani itu dibolehkan. Alasannya bahwa mani adalah barang kelebihan. Oleh karena itu boleh dikeluarkan, seperti memotong daging lebih.

Namun sebagai cataan bahwa ada dua pendapat dari mazhab Hanabilah, sebagian mengharamkannya dan sebagian lagi membolehkannya. Bila kita periksa kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ibni Hanbal juz 4 halaman 252 disebutkan bahwa onani itu diharamkan.

Ulama-ulama Hanafiah juga memberikan batas kebolehannya itu dalam dua perkara:
1. Karena takut berbuat zina.
2. Karena tidak mampu kawin.

Pendapat Imam Ahmad memungkinkan untuk kita ambil dalam keadaan gharizah itu memuncak dan dikawatirkan akan jatuh ke dalam haram. Misalnya seorang pemuda yang sedang belajar atau bekerja di tempat lain yang jauh dari negerinya, sedang pengaruh-pengaruh di hadapannya terlalu kuat dan dia kawatir akan berbuat zina. Karena itu dia tidak berdosa menggunakan cara ini (onani) untuk meredakan bergeloranya gharizah tersebut dan supaya dia tidak berlaku congkak dan gharizahnya itu tidak menjadi ulat.

Tetapi yang lebih baik dari itu semua, ialah seperti apa yang diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. Terhadap pemuda yang tidak mampu kawin, yaitu kiranya dia mau memperbanyak puasa, dimana puasa itu dapat mendidik beribadah, mengajar bersabar dan menguatkan kedekatan untuk bertaqwa dan keyakinan terhadap penyelidikan (muraqabah) Allah kepada setiap jiwa seorang mu‘min.

Untuk itu Rasuluilah s.a.w. Bersabda sebagai berikut:
"Hai para pemuda! Barangsiapa di antara kamu sudah ada kemampuan, maka kawinlah sebab dia itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; tetapi barangsiapa tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung." (Riwayat Bukhari).

Sedangkan dari sisi kesehatan, umumnya para dokter mengatakan bahwa onani itu tidak berbahaya secara langsung. Namun untuk lebih jelasnya silahkan langsung kepada para dokter yang lebih menguasai bidang ini.

==================================================
Cara mengatasi Onani dan Masturbasi


1. Biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.

2. Ciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau suruhlah mereka aktif dalam organisasi kepemudaan yang berlandaskan ajaran agama. Jauhkan mereka dari makanan yang dapat merangsang nafsu birahi, seperti satai daging kambing atau daging domba.

3. Bagi Anda yang telah dewasa dan ingin menghentikan/menghindar dari kebiasaan masturbasi, maka berkumpulah lebih sering dengan orang lain. Apabila pada siang hari Anda merasakan dorongan untuk melakukan masturbasi, hendaklah segera bangkit dari ranjang atau kursi Anda. Bergabunglah dengan orang lain, lalu bercakap-cakaplah dengan mereka. Apabila dorongan itu muncul pada waktu-waktu akan tidur, tulislah sesuatu atau bacalah buku. Lakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiran kepada hal-hal lain.

Yang lebih penting dari itu adalah memperkuat daya kemauan. Usaha itu hanya mungkin terwujud apabila seseorang secara jujur dan tulus hendak melepaskan diri dari kebiasaan buruk itu. Berdoalah kepada Tuhan untuk menolong Anda mengatasi kebiasaan ini, pusatkan perhatian pada ajaran agama. Selain itu berjuanglah untuk menumbuhkan semangat ketakwaan, di antaranya dengan memperbanyak puasa - seperti anjuran Rasulullah saw kepada pemuda yang belum mampu kawin. Puasa dapat mendidik kita beribadah, menumbuhkan kesabaran dan menguatkan kecekatan kita dalam bertakwa dan meningkatkan keyakinan akan bantuan Allah kepada setiap jiwa orang Mukmin. Seperti sabda Rasulullah yang artinya; "Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu sudah mempunyai kemampuan (untuk kawin), maka kawinlah, sebab itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Akan tetapi, barang siapa belum mampu (untuk kawin), maka hendaklah ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung."(HR Bukhari).

K.H. Ahmad Azhar Basir, M.A. setelah mengkaji pandangan dari para ahli fikih, berpendapat, masturbasi pada dasarnya bukan usaha yang normal untuk memenuhi nafsu syahwat. Bahkan jika menjadi kebiasaan, akan banyak mendatangkan kerugian bagi pelakunya. Karena itu, pada dasarnya hukum masturbasi adalah makruh. Jika masturbasi nyata-nyata mengakibatkan kecenderungan timbulnya kerusakan bagi yang bersangkutan, maka hukumnya haram. Nabi Muhammad saw. melarang orang melakukan perbuatan yang merugikan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Sedangkan, masturbasi yang dilakukan untuk menghindari perbuatan zina, hukumnya mubah.

Wallahu a‘lam bis-shawab. Waassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

12194 kali dibaca | Beri Komentar | Bookmark and Share
Daftar Komentar yang masuk untuk blog Onani, Mastubasi dalam pandangan Islam dan Cara Mengatasinya
Beri Komentar lewat FaceBook
Pengirim : RahmaT...B.Aceh
Komentar : Terima kasih atas penjelasan anda..Semoga dengan penjelasan yang telah diberikan dapat membantu sahabat2 kita yang masih melakukan kebiasaan buruk ini. Syukran jazakallah
Pengirim : pencari ilmu
Komentar : blog yang membangun..

bright
Video Today

video islami
Services
Web Design

Haryobayu mencoba memberikan solusi terbaik untuk desain web Anda,...
Web Desain
Web Development

Apapun kebutuhan Online Bisnis Anda serahkan pada Haryo Bayu,...
Web Development
PrintOut Design

Desain PrintOut sesuatu yang penting dalam prioritas langkah Bisnis,Haryo Bayu...
desain logo
Kata Mutiara
"Ajal ada saatnya. Kesulitan bukan berarti harus kita sikapi dengan putus asa. Pastikan kita bisa mengenal diri dengan lebih baik, mengenal diri dengan lebih baik, mengenal kemampuan lebih maksimal. Jangan melakukan sesuatu tanpa tahu ilmu, tanpa tahu kebenaran, karena bisa jadi bumerang. Tidak usah memaksakan diri agar kelihatan lebih dari kenyataan yang sebenarnya. "

 

Galery PHOTO
Blue Mosque on Malaysia
tanngal kirim : 2009-06-08
Jakarta Night
tanngal kirim : 2009-06-08
Nice Islamic Wallpaper
tanngal kirim : 2009-06-08
Wallpaper Ramadhan Blue
tanngal kirim : 2009-06-08
Pray Time Wallpaper
tanngal kirim : 2009-06-08
Artikel Section List
Secercah Cahaya di Tengah Guli
tanngal kirim : 2013-08-21
Setiap Ucapan akan Masuk Catat
tanngal kirim : 2013-08-21
Hakikat Kekayaan yang Sebenarn
tanngal kirim : 2013-08-21
Muslim Nampak Miskin, Kafir Hi
tanngal kirim : 2013-08-21
Datangnya Sifat Malas
tanngal kirim : 2013-08-21
Anda, Kuburan Aib Saudaramu
tanngal kirim : 2013-08-21
DOWNLOAD Terbaru
Download tausiyah Ust Arifin Ilh
pengirim : bayu
Download tausiyah Ust Arifin Ilh
pengirim : bayu
Download Tausiyah Ust. Arifin Il
pengirim : bayu
Download Tausiyah Ust. Arifin Il
pengirim : bayu
Buku Panduan Ramadhan
pengirim : bayu
Plugin Al Quran untuk Ms Word
pengirim : bayu
PENCARIAN :    
All content and imagery including design and code copyright © HaryoBayu.Web.id since 2006
RSS 2.0 - Haryo Bayu Blog Terbaru