Terus Bersyukur atas Segala NikmatNya
Puasa itu untuk Orang Beriman
Bayu Blog/Artikel
Puasa itu untuk Orang Beriman   
2008-09-18 |

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah: 183)


Ramadhan adalah “ الشهر كله “: Bulan segala kebaikan; bulan ampunan, bulan tarbiyah (pembinaan), bulan dzikir dan do’a, bulan Al-Qur’an, bulan kesabaran, bulan dakwah dan jihad serta makna-makna lain yang memberikan tambahan kebaikan dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan dunia dan akhirat kaum beriman. Seluruh kebaikan dan keutamaan itu dalam bahasa Rasul diistilahkan dengan ‘Syahrun Mubarak’ seperti yang tersebut dalam sebuah haditsnya:

“Akan datang kepada kalian bulan Ramadhan, Bulan Mubarak. Allah mewajibkan di dalamnya berpuasa. Pada bulan itu dibukakan untuk kalian pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu serta pada salah satu malamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Barangsiapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikan bulan itu, maka ia telah terhalang selamanya”. (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i).

Mubarak dalam konteks Ramadhan artinya ‘ziyadatul khairat‘: bertambahnya pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi para pemburu kebaikan dan semakin sempitnya ruang dan peluang dosa dan kemaksiatan di sepanjang bulan tersebut. Sungguh satu kesempatan yang tiada duanya dalam setahun perjalanan kehidupan manusia.

Ayat di atas yang mengawali pembicaraan tentang puasa Ramadhan jika dicermati secara redaksional mengisyaratkan beberapa hal, diantaranya: pertama, hanya ayat puasa yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’. Sungguh bukti kedekatan dan sentuhan Allah terhadap hambaNya yang beriman dengan mewajibkan mereka berpuasa, tentu tidak lain adalah untuk meningkatkan derajat mereka menuju pribadi yang bertaqwa ‘La’allakum tattaqun‘.

Ibnu Mas’ud ra merumuskan sebuah kaedah dalam memahami ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’: “Jika kalian mendengar atau membaca ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘hai orang-orang yang beriman‘ maka perhatikanlah dengan seksama; karena setelah seruan itu tidak lain adalah sebuah kebaikan yang Allah perintahkan, atau sebuah keburukan yang Allah larang. Keduanya perintah dan larangan diperuntukkan untuk kebaikan orang-orang yang beriman. Memang hanya orang yang beriman yang mampu berpuasa dengan baik dan benar.

Kedua, bentuk perintah puasa dalam ayat di atas merupakan bentuk perintah tidak langsung dengan redaksi yang pasif: ‘telah diwajibkan atas kalian berpuasa‘. Berbeda dengan perintah ibadah yang lainnya yang menggunakan perintah langsung, seperti misalnya shalat dan zakat: ‘Dirikanlah shalat dan Tunaikanlah Zakat‘, demikian juga haji: ‘Dan sempurnakanlah haji dan umrah kalian karena Allah‘. Redaksi sedemikian ini memang untuk menguji sensitifitas orang-orang yang beriman bahwa bentuk perintah apapun dan dengan redaksi bagaimanapun pada prinsipnya merupakan sebuah perintah yang harus dijalankan dengan penuh rasa ‘iman‘ tanpa ada bantahan sedikitpun, kecuali pada tataran teknis aplikasinya.

Ketiga, Motivasi utama dalam menjalankan perintah beribadah dari Allah sesungguhnya adalah atas dasar iman, ‘Hai orang-orang yang beriman‘, bukan karena besar dan banyaknya pahala yang disediakan karena itu merupakan rahasia dan hak prerogatif Allah yang tentunya sesuai dengan tingkat kesukaran dan kepayahan ibadah tersebut, seperti yang dirumuskan dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Pahala itu ditentukan oleh tingkat kesukaran dan kepayahan seseorang menjalankan ibadah tersebut“.

Dalam konteks ini, hadits yang seharusnya memotivasi orang yang beriman dalam berpuasa yang paling tinggi adalah karena balasan ampunan ‘maghfirah‘ yang disediakan oleh Allah swt. Bukan balasan yang sifatnya rinci seperti yang terjadi pada hadits-hadits lemah atau palsu seputar puasa, karena tidak ada yang lebih tinggi dari ampunan Allah baik dalam konteks shiyam maupun qiyam di bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda tentang puasa: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu“. (Muttafaqun Alaih).

Dengan redaksi yang sama, Rasulullah bersabda juga tentang qiyam di bulan Ramadhan: “Barangsiapa yang shalat malam (qiyam) di bulan Ramadhan karena iman dan semata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu“. (Muttafaqun Alaih), demikian juga ternyata doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah di bulan puasa adalah “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema‘af dan mencintai kema’afan, maka ma’afkanlah aku”. (Ahmad dan Tirmidzi) Ampunan Allahlah yang menjadi kunci dan syarat utama seseorang dimasukkan ke dalam syurga.

Yang juga menarik untuk ditadabburi adalah bahwa ibadah puasa merupakan ibadah kolektif para umat terdahulu sebelum Islam; ‘sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian‘. Hal ini menunjukkan bahwa secara historis, puasa merupakan sarana peningkatan kualitas iman seseorang di hadapan Allah yang telah berlangsung sekian lama dalam seluruh ajaran agama samawiNya. Puasalah yang telah mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan sisi kebaikan umat terdahulu yang kemudian dikekalkan syariat ini bagi umat akhir zaman.

Prof. Mutawalli Sya’rawi menyimpulkan bahwa syariat puasa telah lama menjadi ‘Rukun Ta’abbudi‘ pondasi penghambaan kepada Allah dan merupakan instrumen utama dalam pembinaan umat terdahulu. Dalam bahasa Rasulullah saw seperti termaktub dalam haditsnya ‘Puasa adalah benteng. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa pada hari tersebut, maka janganlah ia berkata kotor atau berbuat jahat. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan (dengan sadar): “Aku sedang berpuasa“. (Bukhari Muslim)

Ungkapan ‘Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa‘ pada petikan terakhir ayat pertama dari ayat puasa merupakan harapan sekaligus jaminan Allah bagi ‘orang-orang yang beriman‘ dalam seluruh aspek dan dimensinya secara totalitas bahwa mereka akan beralih meningkat menuju level berikutnya yaitu pribadi yang muttaqin yang tiada balasan lain bagi mereka melainkan syurga Allah tanpa ‘syarat‘ karena mereka telah berhasil melalui ujian-ujian perintah dan larangan ketika mereka berada pada level mu’min. Allah swt berfirman tentang orang-orang yang bertaqwa misalnya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan berada di dalam syurga dan kenikmatan“. (Ath-Thur: 17) “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan berada di taman-taman syurga dan di mata air-mata air“. (Adz-Dzariyat: 15) “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa akan berada di tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air“. (Ad-Dukhan: 51-52).

Itulah hakikat kewajiban puasa yang tersebut pada ayat pertama dari Ayatush Shiyam; perintah puasa adalah ditujukan untuk orang yang beriman, berpuasa hanya akan mampu dijalankan dengan baik dan benar oleh orang-orang yang benar-benar beriman, motifasi menjalankan amaliah Ramadhan juga karena iman, dan orang-orang beriman yang sukses akan diangkat oleh Allah menuju derajat yang paling tinggi di hadapanNya, yaitu Muttaqin. Semoga kita termasuk yang akan mendapatkan predikat muttaqin setelah sukses menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisaban.

*) DR. H. Atabik Luthfi, MA, Ketua IKADI (Ikatan Da`i Indonesia) Wilayah Jakarta

1053 kali dibaca | Beri Komentar | Bookmark and Share
Daftar Komentar yang masuk untuk blog Puasa itu untuk Orang Beriman
Beri Komentar lewat FaceBook
Belum ada komentar blog yang masuk

bright
Video Today

video islami
Services
Web Design

Haryobayu mencoba memberikan solusi terbaik untuk desain web Anda,...
Web Desain
Web Development

Apapun kebutuhan Online Bisnis Anda serahkan pada Haryo Bayu,...
Web Development
PrintOut Design

Desain PrintOut sesuatu yang penting dalam prioritas langkah Bisnis,Haryo Bayu...
desain logo
Kata Mutiara
"Kadang hati menganggap biasa untuk rasa manis, karena ia cenderung pada kenikmatan.Berbeda dengan pahit, rasa itu begitu cepat dominan buat lidah hati. Seolah tidak pernah ada rasa manis sebelum pahit, semuanya menjadi sangat pahit"

 

Galery PHOTO
Blue Mosque on Malaysia
tanngal kirim : 2009-06-08
Jakarta Night
tanngal kirim : 2009-06-08
Nice Islamic Wallpaper
tanngal kirim : 2009-06-08
Wallpaper Ramadhan Blue
tanngal kirim : 2009-06-08
Pray Time Wallpaper
tanngal kirim : 2009-06-08
Artikel Section List
Secercah Cahaya di Tengah Guli
tanngal kirim : 2013-08-21
Setiap Ucapan akan Masuk Catat
tanngal kirim : 2013-08-21
Hakikat Kekayaan yang Sebenarn
tanngal kirim : 2013-08-21
Muslim Nampak Miskin, Kafir Hi
tanngal kirim : 2013-08-21
Datangnya Sifat Malas
tanngal kirim : 2013-08-21
Anda, Kuburan Aib Saudaramu
tanngal kirim : 2013-08-21
DOWNLOAD Terbaru
Download tausiyah Ust Arifin Ilh
pengirim : bayu
Download tausiyah Ust Arifin Ilh
pengirim : bayu
Download Tausiyah Ust. Arifin Il
pengirim : bayu
Download Tausiyah Ust. Arifin Il
pengirim : bayu
Buku Panduan Ramadhan
pengirim : bayu
Plugin Al Quran untuk Ms Word
pengirim : bayu
PENCARIAN :    
All content and imagery including design and code copyright © HaryoBayu.Web.id since 2006
RSS 2.0 - Haryo Bayu Blog Terbaru